KENANGLAH KEMBALI.....
Untuk
Calon Suamiku.....
Apa
kabar? Sudah dua hari ini kita tak bertemu. Biasanya kau ke rumah, menemui ibuku
atau sekadar mempersiapkan persiapan pernikahan. Tapi sudah dua hari kau tak
muncul. Karena sebuah masalah yang tak kunjung tuntas. Tahukah kamu berapa hari
lagi kita akan menikah? Egomu tak cukupkah hingga dua hari ini?
Aku
menulis surat ini karena segala macam komunikasi dari SMS atau BBM ternyata tak
cukup untuk membuat kita kembali mesra. Semoga kamu membacanya dan dapat paham
bahwa aku tak mau ini berlarut-larut.
Sudah
berapa lama kita berhubungan dan telah melewati terjalnya sebuah hubungan? Segala
coba sudah diuji dan kita bisa, kenapa untuk yang satu ini sangat alot? Untuk sebuah
masalah sepele tapi lantas tetap membiarkan kamu membeku dan aku diam selama
dua hari ini.
Kamu
masih ingat kan kala kita bertengkar hebat sekali pun? Tak kurang sehari kita
sudah saling melempar senyum dan mesra kembali. Tapi mengapa sekarang begini? Dua
hari.... dan sepertinya akan menjadi tiga hari atau empat hari. Oh ayolah,
banyak persiapan pernikahan kita yang terabaikan dua hari ini.
Aku
memang keras tapi kau jangan keras juga. Hentikan semua perang dingin ini
sayang.....
Bukankah
impian kita lebih hebat dari masalah ini? Kita sudah berencana akan membuat
sebuah rumah dengan halaman yang luas untuk anak kita kelak. Kita pun juga
sama-sama berjanji agar saling melengkapi satu sama lain. Kala sedih dan
bahagia. Kita juga bahkan sering bertengkar karena masalah konsep rumah apa
nantinya, kemudia kau mengecup keningku sembari mengatakan “Terserah kamu
sayang. Pilihanmu adalah yang terbaik nantinya, tapi jangan lupa aku ingin
kolam ikan di depan rumah,”. Kau masih ingat kan?
Oh
iya, untuk masalah keuangan aku sama sekali tak mempermasalahkan. Jangan lihat penghasilanku
yang sekian dan penghasilanmu yang sekian. Bukankah aku bekerja karena ingin
membuat taraf kehidupan kita lebih baik, terutama untuk anak kita kelak. Iya kan?
Kau
memang bukan lelaki romantis yang pernah aku kenal. Sama sekali tidak, tapi aku
memilihmu karena dulu kau tak pernah mau melepasku walau aku mau saat itu. Kau selalu
memperjuangkan aku. Sekarang, mengapa jadi ciut karena masalah ini?
Orang
pun banyak sekali memberikan wejangan agar berhati-hati menjelang pernikahan,
rentan bertengkar. Tapi, sekali lagi, bukankah kita sudah melewati ribuan
cobaan?
Semoga
surat ini bisa membuat pertengkaran kita usai dan kembali mesra. Aku tak pandai
merangkai kata, sama sepertimu. Tapi, kau tahu semua bermuara pada satu hal. Aku
cinta kamu.....
semoga dia baca. semoga kalian bisa menyelesaikannya dengan baik yaa. semangat
BalasHapusKami sudah menikah, Kakak. Ah, Kak Ikaaaaa.... Lope lopee
Hapus