Selasa, 17 Februari 2015

KENANGLAH KEMBALI.....

KENANGLAH KEMBALI.....

Untuk Calon Suamiku.....
Apa kabar? Sudah dua hari ini kita tak bertemu. Biasanya kau ke rumah, menemui ibuku atau sekadar mempersiapkan persiapan pernikahan. Tapi sudah dua hari kau tak muncul. Karena sebuah masalah yang tak kunjung tuntas. Tahukah kamu berapa hari lagi kita akan menikah? Egomu tak cukupkah hingga dua hari ini?
Aku menulis surat ini karena segala macam komunikasi dari SMS atau BBM ternyata tak cukup untuk membuat kita kembali mesra. Semoga kamu membacanya dan dapat paham bahwa aku tak mau ini berlarut-larut.
Sudah berapa lama kita berhubungan dan telah melewati terjalnya sebuah hubungan? Segala coba sudah diuji dan kita bisa, kenapa untuk yang satu ini sangat alot? Untuk sebuah masalah sepele tapi lantas tetap membiarkan kamu membeku dan aku diam selama dua hari ini.
Kamu masih ingat kan kala kita bertengkar hebat sekali pun? Tak kurang sehari kita sudah saling melempar senyum dan mesra kembali. Tapi mengapa sekarang begini? Dua hari.... dan sepertinya akan menjadi tiga hari atau empat hari. Oh ayolah, banyak persiapan pernikahan kita yang terabaikan dua hari ini.
Aku memang keras tapi kau jangan keras juga. Hentikan semua perang dingin ini sayang.....
Bukankah impian kita lebih hebat dari masalah ini? Kita sudah berencana akan membuat sebuah rumah dengan halaman yang luas untuk anak kita kelak. Kita pun juga sama-sama berjanji agar saling melengkapi satu sama lain. Kala sedih dan bahagia. Kita juga bahkan sering bertengkar karena masalah konsep rumah apa nantinya, kemudia kau mengecup keningku sembari mengatakan “Terserah kamu sayang. Pilihanmu adalah yang terbaik nantinya, tapi jangan lupa aku ingin kolam ikan di depan rumah,”. Kau masih ingat kan?
Oh iya, untuk masalah keuangan aku sama sekali tak mempermasalahkan. Jangan lihat penghasilanku yang sekian dan penghasilanmu yang sekian. Bukankah aku bekerja karena ingin membuat taraf kehidupan kita lebih baik, terutama untuk anak kita kelak. Iya kan?
Kau memang bukan lelaki romantis yang pernah aku kenal. Sama sekali tidak, tapi aku memilihmu karena dulu kau tak pernah mau melepasku walau aku mau saat itu. Kau selalu memperjuangkan aku. Sekarang, mengapa jadi ciut karena masalah ini?
Orang pun banyak sekali memberikan wejangan agar berhati-hati menjelang pernikahan, rentan bertengkar. Tapi, sekali lagi, bukankah kita sudah melewati ribuan cobaan?

Semoga surat ini bisa membuat pertengkaran kita usai dan kembali mesra. Aku tak pandai merangkai kata, sama sepertimu. Tapi, kau tahu semua bermuara pada satu hal. Aku cinta kamu.....